Alasan Tidak Boleh Makan di Depan Komputer

VIVAnews – Saat pekerjaan menumpuk, Anda pasti sering terpaksa makan di depan komputer. Kebiasaan buruk tersebut memang harus segera Anda hilangkan. Sesibuk apapun pekerjaan, luangkanlah waktu untuk menikmati makan siang Anda. Karena tidak hanya berefek pada kebiasaan makan yang tidak sehat tetapi juga membuat makanan Anda terkontaminasi banyak bakteri.

Anda pasti tidak menyadari bahwa pada keyboard yang Anda gunakan terdapat ribuan bakteri. Saat meletakkan makanan di depan keyboard, kemudian Anda mengetiknya, bakteri-bakteri tersebut bisa saja terlempar ke dalam makanan yang Anda makan.

Keyboard adalah salah satu peralatan kantor paling kotor dan jarang dibersihkan. Bahkan ada penelitian yang menunjukan kalau bakteri yang terdapat pada keyboard lebih banyak dibandingkan bakteri yang terdapat pada toilet. Jadi, jangan mengambil risiko dengan makan di depan komputer, karena bakteri berbahaya dari keyboard bisa mengotori makanan dan bisa membuat Anda sakit.

Tidak hanya itu, sisa atau remahan makanan yang tercecer sangat menggoda hewan penyebar penyakit seperti tikus, kecoa dan lalat. Bisa Anda bayangkan jika meja Anda, menjadi tempat favorit hewan-hewan tersebut karena banyak makanan. Pasti Anda akan terkena virus penyakit yang dibawa hewan tersebut setiap harinya.

Sangat penting untuk menjaga kebersihan meja kerja karena Anda bekerja ditempat tersebut setiap harinya. Jangan hanya mengandalkan tenaga pembersih kantor, untuk membersihkan meja. Sesekali bersihkanlah meja kerja sendiri secara maksimal dan jaga kebersihannya terutama keyboard Anda. Untuk membersihkan meja kerja Anda bisa menggunakan tisu basah yang mengandung alkohol. Karena kandungan alkohol didalamnya cukup efektif membunuh bakteri.

• VIVAnews anak-semangka

Iklan

Sejarah Coca – Cola

coca-colaCoca-Cola pertama kali diperkenalkan pada tanggal 8 Mei 1886 oleh John Styth Pemberton, seorang ahli farmasi dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Dialah yang pertama kali mencampur sirup karamel yang kemudian dikenal sebagai Coca-Cola. Frank M. Robinson, sahabat sekaligus akuntan John, menyarankan nama Coca-Cola karena berpendapat bahwa dua huruf C akan tampak menonjol untuk periklanan. Kemudian, ia menciptakan nama dengan huruf-huruf miring mengalir, Spencer, dan lahirlah logo paling terkenal di dunia. Dr. Pemberton menjual ciptaannya dengan harga 5 sen per gelas di apotiknya dan mempromosikan produknya dengan membagi ribuan kupon yang dapat ditukarkan untuk mencicipi satu minuman cuma-cuma. Pada tahun tersebut ia menghabiskan US$46 untuk biaya periklanan. Pada tahun 1892, Pemberton menjual hak cipta Coca-Cola ke Asa G. Chandler yang kemudian mendirikan perusahaan Coca-Cola pada 1892. Chandler piawai dalam menciptakan perhatian konsumen dengan cara membuat berbagai macam benda-benda cinderamata berlogo Coca-Cola. Benda-benda tersebut kemudian dibagi-bagi di lokasi-lokasi penjualan penting yang berkesinambungan. Gaya periklanan yang inovatif, seperti desain warna-warni untuk bus, lampu gantung hias dari kaca, serta serangkaian cinderamata seperti kipas, tanggalan dan jam dipakai untuk memasyarakatan nama Coca-Cola dan mendorong penjualan. Upaya mengiklankan merek Coca-Cola ini pada mulanya tidak mendorong penggunaan kata Coke, bahkan konsumen dianjurkan untuk membeli Coca-Cola dengan kata-kata berikut: “Mintalah Coca-Cola sesuai namanya secara lengkap; nama sebutan hanya akan mendorong penggantian produk dengan kata lain”. Tetapi konsumen tetap saja menghendaki Coke, dan akhirnya pada tahun 1941, perusahaan mengikuti selera popular pasar. Tahun itu juga, nama dagang Coke memperoleh pengakuan periklanan yang sama dengan Coca-Cola, dan pada tahun 1945, Coke resmi menjadi merek dagang terdaftar.

Papua Ideal Untuk Penelitian Etnoarkeologi

Jayapura – Dengan kondisi budayanya yang beragam, wilayah Papua dan Papua Barat menjadi tempat yang ideal untuk kegiatan penelitian bertema etnoarkeologi.

Kepala Balai Arkeologi Jayapura, Drs.M.Irfan Mahmud,M.Si di Jayapura, Senin mengatakan, penelitian etnoarkeologi penting untuk mengetahui sejarah perkembangan budaya masyarat mulai jaman pra sejarah hingga sekarang.

“Sebagian masyarakat yang mendiami Pulau Papua secara keseluruhan masih melaksanakan dan mewarisi budaya nenek moyang mereka,” ujarnya.

Etnoarkeologi merupakan salah satu cabang dari ilmu arkeologi yang mempelajari sisi etnik atau perkembangan budaya dari suatu masyarakat berdasarkan bukti-bukti peninggalangan berupa artefak.

Jika merujuk pada jumlah bahasa daerah yang masih digunakan di wilayah Papua, jumlah etnik yang menempati pulau ini mencapai 300 suku.

Sementara itu, sebagian besar bahkan hampir seluruh etnik masyarakat ini masih melakukan beberapa aktivitas yang sama atau mirip dengan nenek moyang mereka beberapa generasi yang telah lewat.

Misalnya kegiatan bercocok tanam menggunakan alat-alat cangkul sederhana yang belum tersentuh teknologi tinggi yang sampai saat ini masih dikerjakan masyarakat di daerah pegunungan.

Selain itu, ada pula aktivitas menokok atau mengolah sagu yang dilakukan masyarakat yang tinggal dekat daerah pesisir.

Kegiatan-kegiatan budaya seperti ini, menurut Irfan secara substansial masih sama dengan yang dilakukan masyarakat masa lalu. Perbedaan yang tidak terlalu signifikan biasanya terletak pada peralatan atau media yang digunakan yang semakin meringankan pekerjaa yang dilakukan

“Tapi dasar budayanya tetap sama,” tandasnya.

Kondisi inilah yang menjadikan penelitian etnoarkeologi dengan mudah dilakukan karena bukti arkeologinya jelas dan lengkap.

Salah satu faktor yang menyebabkan sebagian masyarakat Papua memiliki kekayaan etnoarkeologi yang masih bertahan kemurnniannya adalah keadaan geografis yang menjadi hambatan, terutama masyarakat daerah pegunungan untuk berinterkasi intensif dengan budaya dari komunitas di luar etnik mereka.

“Warisan budaya yang sangat berharga ini dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan kegiatan ilmiah yang hasilnya digunakan untuk merancang bentuk pembangunan yang sesuai dengan tradisi masyarakat Papua,” jelas Irfan.(*)karte-6-659